MEDIA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI DAN POLITIK
Amabel Yuniar (B95219086)
Kualitas
kehidupan manusia banyak ditentukan oleh perkembangan teknologi. Salah satunya
adalah perkembangan teknologi komunikasi. Kita bisa melihat bagaimana perubahan
dalam masyarakat ketika mesin cetak ditemukan. Percetakan maju pesat dan
mengubah kehidupan masyarakat. Demikian juga dengan teknologi yang lain yang
mendorong tumbuhnya media massa. Media selalu dihubungkan dengan struktur
kekuatan politik dan ekonomi yang kuat. Nyatanya media yang memiliki nilai
ekonomi adalah objek kompetisi bagi kontrol dan akses. Selain itu, mereka
tunduk kepada peraturan politik, ekonomi dan hukum. Media massa juga secara
umum dipandang sebagai instrumen efektif bagi kekuasaan dengan kapasitas
potensial untuk membawa pengaruh dengan berbagai cara.
Perspektif
media dalam merepresentasikan sebuah peristiwa terkadang mampu mengangkat kisah
yang “melebihi” fakta yang dimana media terkadang mencampurkan opini dan berita
sehingga berita yang berspektif subjektif kemudian menjadi permasalahan dalam
pemberitaan terutama tidak terpenuhinya tuntutan obyektif profesionalitas dan
etika media. Tak sedikit kekuatan struktur media ini mampu mempengaruhi
persepsi publik. Hal ini tentunya terkait bagaimana makna dalam teks
pemberitaan yang dibangun “dikonstruksi” oleh media tersebut.
Dengan
demikian, produksi media terselubung dalam berbagai hubungan kekuasaan dan
berperan dalam memproduksi kepentingan berbagai daya sosial yang kuat, baik
memajukan penguasaan maupun memperkuat berbagai individu guna melawan dan
berjuang. Dalam dunia kontemporer, memaknai kerap dibuat oleh institusi yang
kita kenal dengn istilah media, yang mana memproduksi makna telah menjadi
profesi. Seperti halnya media-memaknai berhubungan dengan orang-orang yang
perilakunya terlembaga dengan praktisi pekerja. Hal ini melibatkan munculnya
hubungan kekuatan diantara orang-orang dalam pengaturan kelembagaan.
Pengungkapan agenda, kepentingandan perjuangan antara orang-orang seperti itu
membantu memberi kita wawasan ke dalam dunia makna yang kita lalui.
Media
mampu memposisikan diri sebagai alat yang mampu merubah struktur sistem sosial
dengan me re produksi (produksi kembali) sistem sosial yang ada dengan
menjadikan bahasa sebagai akar struktur media dengan memainkan peran kekuasaan
informasi. Tentunya hal ini tidak lepas dari bagaimana pemilik media dalam
organisasi media secara masif mampu memproyeksikan media untuk ‘menyusup’ dan
‘berbaur’ dalam sistem sosial. Persoalan mengenai organisasi media akan terkait
pada kekuatan media yang dalam praktiknya akan tergantung pada pengendalian
media. Murdock (1982) dalam Rusadi (2005 : 21), melihat media sebagai suatu
badan usaha besar, industri komunikasi yang tidak sekadar menghasilkan produk
berupa barang dan jasa, tetapi lebih dari itu. Industri komunikasi
menggambarkan dunia kontemporer, imaji tentang kehidupan indah yang semuanya
berperan penting dalam mengarahkan kesadaran manusia. Kesemuanya menyebabkan
isu pengendalian (control) media mengarah pada hubungan antara faktor ekonomi
dan budaya.
Organisasi
media memiliki otoritas penuh untuk memainkan isu peristiwa. Hal ini mengingat
satu dari Fourth Theory of the Press (Empat Teori Pers), Teori Liberlisme yang
menegaskan pentingnya kebebasan pers dan kebebasan media dalam menentukan
sendiri kebijakannya terutama kebijakan keredaksian dalam menentukan sudut
pandang berita ataupun program. Di Indonesia sendiri sudah mengacu pada UU.No
40/1999 tentang kebebasan pers dan juga mengatasnamakan Pers Pancasila,
sehingga kepemilikan media atau organisasi media memiliki otoritas penuh dalam
memainkan isu peristiwa dan menentukan sudut pandang berita.
KESIMPULAN
Media
massa dibidang pertelevisian Indonesia fasca reformasi 1998 mendapatkan angin
segar semakin terbuka dan kemajuan teknologi. Media massa pada saat ini sering
dikritik sebagai sebuah struktur yang melanggengkan berbagai kepentingan dan
dua kekuasaan yang saling tarik menarik dalam masyarakat. Kepentingan tersebut
adalah kepentingan Negara dan kepentingan pasar atau kapital. Media digunakan
Negara sebagai alat hegemoni agar dapat menciptakan kondisi aman terkendali.
Sedangkan media digunakan oleh kepentingan pasar untuk dapat menghasilkan
keuntungan misalnya melalui iklan. Ruang publik yang diharapkan mampu
memberikan kebaikan menjadi tantangan bersama di masa depan. Media massa
sebagai bagian dari demokrasi akan mempengaruhi bagaimana masyarakat mengambil
keputusan. Ruang publik tidak hanya menawarkan informasi secara rasional yang
dapat mengubah pandangan tentang isu publik namun juga dapat mengubah kehidupan
seseorang dengan kekuatan untuk menggerakkan masyarakat.
REFRENSI
Sitti Syahar Inayah, “Aspek Ekonomi,
Politik, dan Kultural Media Massa”, Jurnal Lentera, Vol. IX, No. 2,
Desember 2015.
Razie Razak, “Perspektif Ekonomi Politik
Media Massa (Kajian Literatur Varian dan Locus Media Massa dalam Lingkup
Pemberitaan)”, Jurnal Lentera Komunikasi, Vol. 2, No. 1, Agustus 2016.
Jamhur Poti’, “Ekonomi Politik, Media
dan Ruang Publik”, Jurnal Semiotika, Vol. 13, No. 2, 2019.
Komentar
Posting Komentar